Friday, October 17, 2008

Pemuda Khawatirkan Perdamaian di Aceh

Yuli Rahmad | The Globe Journal

Banda Aceh – Keterlibatan kaum muda dalam pembentukan kebijakan–kebijakan perdamaian dinilai sangat minim. Pada umumnya, pemuda merasa belum dilibatkan secara aktif dalam pembangunan perdamaian.
Demikian laporan Aceh Youth Radio Program (AYRP) yang dirangkum dalam Youth View Report dari 8 Kabupaten/ Kota di Sigli, Bireuen, Lhokseumawe, Langsa, Takengon, Aceh Tamiang, Meulaboh, dan Aceh Barat Daya menyatakan pemuda tidak dilibatkan dalam berbagai aktivitas pembangunan perdamaian. Meskipun MoU Helsinki mengamanatkan hal itu, namun pemuda belum merasakan dampak positif langsung dari kesepakatan itu.
Disamping itu, para pemuda di daerah mengkhawatirkan kelangsungan perdamaian di Aceh. Kekhawatiran itu didasari belum sempurnanya proses reintegrasi, rekonsiliasi, dan kompensasi. Dikatakannya, faktor –faktor itu yang sering memicu ketegangan antar kelompok dan kejahatan yang menggunakan kekerasan. “ Dari laporan ini, diketahui para pemuda sangat mengkhawatirkan keberlangsungan perdamaian di Aceh,” ujar Bahrul Wijaksana Manager Officer AYRP di Banda Aceh, Jumat (17/10).
Pemaparan AYRP mengenai tanggapan pemuda Aceh terhadap perdamaian di Aceh yang digelar di Sultan Hotel Banda Aceh, Jum’at (17/10) disambut baik oleh kalangan muda Aceh yang hadir dalam pemaparan laporan itu pagi tadi.
M Fauzan Febriansyah, mahasiswa Unsyiah Banda Aceh menyatakan pemerintah sering menutup mata terhadap keluhan dan permasalahan yang dihadapi pemuda Aceh. Kurangnya konsolidasi antara pemerintah dan pemuda semakin menambah ruang pemisah antara pembuat kebijakan dan masyarakat. Sayangnya, menurutnya masyarakat khususnya pemuda sebagai generasi penerus bangsa yang akan dirugikan.“ Saya pikir Pemerintah harus memberikan ruang–ruang diskusi yang besar bagi pemuda Aceh sehingga mampu menampung semua aspirasi dan potensinya,” kata Fauzan. [003]
( Dikutip Dari http://tgj.co.id/ )

Saturday, October 11, 2008

Tengku Tjhik Hasan Muhammad Di Tiro




Sabtu 11 Oktober 2008, Tengku Tjik Hasan Muhammad Di Tiro sang proklamator Gerakan Aceh Merdeka ( GAM ) akhir nya menginjak kan kaki nya kembali di Bumi serambi Mekkah setelah menjadikan daerah tersebut sebagai kenangan selama 30 tahun yang lalu. Wali Hasan Tiro, begitu sapaan akrab yang kerab terdengar dimasyarakat Aceh, meskipun sudah memilki usia yang lanjut yaitu sekitar 83 tahun masih tampak bugar seperti layaknya usia 30 tahun silam. Sosok yang dikenal tegas dan pemberani itu masih terlihat jelas dimuka nya yang sedikit mulai keriput dimakan masa. Hal itu kami temui ketika beberapa tim dari kami mencoba untuk menghimpun penyambutan kedatangan Wali Nanggroe itu. Berdasarkan beberapa informasi yang diperoleh dari pihak panitia penyambutan, Hasan Tiro tiba di Aceh tepat nya di Bandara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh sekitar pukul sebelas waktu setempat, dan lansung disambut oleh beberapa unsur Pemerintah Aceh serta Pejabat KPA ( eks Kombatan ) yang ada. Usai beberapa ceremonial atau tradisi khusus penyambutan bagi masyarakat Aceh, rombongan Hasan Tiro yang terbang dari Kuala Lumpur ( Malaysia ) dengan dua pesawat charteran khusus lansung bergegas menuju ke Mesjid Raya Baiturrahman. Iring-iringan sekitar dua puluh lima lebih mobil yang dipersiapkan untuk mengangkut rombongan Wali Nanggroe serta Gubernur NAD, seakan membuat setiap ruas jalan yang pada awalnya telah di padati puluhan ribu masyarakat Aceh semakin sempit bagaikan gang kecil yang hanya mampu dilewati satu persatu kendaraan. Dalam agenda yang sebenar nya yang telah kami catat, Wali Nanggroe pertama sekali akan menuju Pendopo Gubernur NAD, dan usai melakukan Peusijuk ( tradisi khusus masyarakat Aceh ) serta makan siang bersama, barulah Hasan Tiro bersama rombongan menuju Mesjid Raya, namun agenda tersebut bergeser jauh dari perkiraan yang telah dipersiapkan. Hasan Tiro dan beberapa rombongan yang sempat terpisah dengan Gubernur terlebih dahulu menuju mesjid raya dan sekaligus melakukan sholat zuhur bersama disana. Bergeser nya agenda tersebut menurut Malik Mahmud ( Mentri GAM ) dalam konfrensi pers dihadapan puluhan wartawan lokal, nasional dan internasional, dipendopo Gubernur NAD karena rasa haru Wali Nanggroe ketika melihat Puluhan ribu masyarakat Aceh yang menyambut gembira kedatangan beliau ke Bumi Serambi mekkah ini serta sedikit nya kesempatan waktu beliau yang belum tersusun secara rapi untuk benar-benar bisa berdiri dihadapan puluhan ribu masyarakat yang datang dari segala penjuru Aceh itu, dan oleh karena itu lah ia lansung menggunakan kesempatan menuju Mesjid Raya untuk bisa bertatap lansung dengan masyarakat yang setelah kian lama merindukan nya.....(to be continue)

Friday, October 10, 2008

Fatali FM in Blang Pidie






Gambar diatas direkam pada saat melakukan kegiatan di Fatali FM Blang Pidie pada tanggal 26 September 2008. Rangkaian Kegiatan masih sama dengan Radio mitra lain nya yaitu Debar, FGD, dan buka puasa bersama.

Meulaboh in Dalka FM





Beberapa kegiatan yang dilkukan Aceh Youth Radio Program di Radio mitra yang ada. Foto diatas, direkam pada tanggal 25 September 2008 Saat melakukan Kunjungan Ke Kota Meulaboh.

Perjalanan Meulaboh Dan Blang Pidie






Thursday, October 9, 2008

DeBar ( Dengar Bareng ) Geuderang Damee


Beberapa waktu lalu pada bulan suci Ramadahan 1429 H, tim dari Search For common Ground yang tergabung dalam Aceh Youth Radio Programme berpetualang mengelilingi 12 daerah yang ada Di NAD. Kegiatan yang dilakukan oleh tim yang telah dibagi 3 itu antara lain buka puasa bersama, Small Group Discussion dan Debar (dengar Bareng Program Geunderang Dame).
Keanekaragaman pendapat dan juga saran terhadap kemajuan program ini kita dapat kan, bahkan isu-isu tentang perdamaian kerab menjadi bahasan yang gak ada habis nya dengan seluruh para peserta yang ada di masing-masing daerah. Hasil dari keseluruhan jajak pendapat yang telah kami kumpulkan, ternyata para pemuda masih sangat berharap untuk dilibat kan dalam proses perdamaian, sebab menurut mereka pemuda adalah tonggak untuk generasi yang akan meneruskan masa depan Aceh. Jika pada masa perdamaian pemuda masih diabaikan, maka sama saja pihak yang terkait selama ini menghancur kan satu generasi Aceh dimasa yang akan datang. Banyak tutur yang menyatakan, pemuda belum mendapatkan perhatian yang penuh, satu kutipan yang sangat unik yang masih teringat "Kami didengarkan saja tapi tidak pernah dipedulikan sesuai dengan yang mereka dengar" . Mengenai perdamaian dan menyangkut berbagai isu politik, para pemuda juga berpendapat miris yang menyatakan Aceh belum sepenuh dirasakan damai, kata damai hanyalah untuk pihak-pihak tertentu saja bukan bagi kami yang ada di daerah cetus para pemuda. Banyak isu konflik yang bermunculan menurut mereka, apalagi mendekati pesta demokrasi bagi para elit politik yang ada. Mereka hanya berharap, meskipun rasa damai sudah ada jangan ada lagi pertikaian yang memunculkan konflik yang dapat menghancurkan masa depan mereka.

Haruskah Kita Berperang !?

Sanggupkah telinga kita ketika setiap hari mendengar dentuman senjata yang berbunyi keras bagaikan amarah yang tak teratasi? Atau sanggupkah kita setiap hari nya hidup dalam suasana ketakutan, mencekam dan dan tak bersuara?? Atau satu hal lagi sanggupkan kah kita menahan perasaan saat melihat isak tangis sang bocah kecil yang tak berdosa karena mengharap kan ketenangan untuk sejenak melepaskan lelah nya?? Peperangan bisa saja kita nilai satu hal positif ketika kita memang dijajah dan diperlakukan seperti budak di zaman Belanda dan Jepang, tapi apakah peperangan akan positif ketika rakyat kecil yang hidup tenang tanpa kekangan dan ketakutan menderita karena ulah dan kepentingan sepihak yang dianggap sebagai suatu jajahan oleh kaum tertentu?? Kita semua tau, tak ada perang yang tak usai dan tak ada pula gading tak retak, begitulah kata pepatah, tapi apa semua akan berarti ketika semua usai, apa itu akan bermamfaat pada dia yang mau hidup dengan tenang sejak dahulu??
Disana pada sebuah tempat dimana peperangan sedang terjadi dan yang lebih disayangkan peperangan itu bukanlah melawan jajahan tapi melawan kaum yang sama dengan para pelaku perang, banyak masa depan yang terabaikan, banyak keperawanan menjadi erangan , banyak darah yang terbuang tanpa tau apa dosa sebenar nya, dan banyak pula kebodohan serta jompo yang tak terabaikan. Pandanglah semua, lalu katakan Harus kah kita berperang??
Perdamain bisa diwujudkan, peperangan bukan lah sebuah kemenangan!!

Geunderang Damee


Geuderang Damee adalah program radio yang menyajikan informasi tentang perdamaian yang dilihat dari sudut pandang kaum muda. Program ini dikemas dengan tema-tema yang menarik yang ada dalam keseharian kaum muda. Geunderang damee disiarkan di 12 radio swasta yang ada di Nanggroe Aceh Darussalam, sudah mengudara sejak 15 Agustus 2008. Program ini terselenggara berkat kerjasama baik Search for Common Ground Indonesia dengan Bank Dunia atau Lebih dikenal World Bank. Informasi-informasi yang dikemas dalam paket Buletin Udara sekitar 30 menit untuk program ini antara lain Vox pop, Interview,buletin, Radio diary, Feature, dan lain hal yang menyangkut dengan perkembangan situasi anak muda di Aceh. Selain menampilkan buletin udara dalam waktu 30 menit, aceh youth radio programme ini juga ngadain talkshow 30 menit yang ngupas masalah perdamaian serta berbagai kegiatan yang menyangkut kaum muda Aceh. Talkshow nya bisa didengarin di 6 radio jaringan yang termasuk kedalam 12 radio swasta. 12 Radio tersebut antara lain Fatali FM Blang Pidie, Amanda FM Takengon, Andyta FM Bireun, Istiqomah FM Lhokseumawe, Adyemaja FM Lhokseumawe, Gipsi FM Langsa, Cindi FM Langsa, Dalka FM Meulaboh, Djati FM Banda Aceh, Flamboyan FM Banda Aceh,As FM sigli,Birama FM Aceh Tamiang. Sesuai dengan nama diatas, Aceh youth Radio programme untuk program Geunderang Damee, memiliki 12 Reporter muda yang bisa dikatakan cukup terlatih untuk memberikan informasi yang bisa dikemas dalam program ini. Untuk kedepan Program Geuderang damee juga akan bisa didengarkan di Jaringan Radio komunitas Aceh. Jadi ayo, cintai perdamaian dan cipatakan dia untuk masa depan kita kaum muda. Perbedaan bukan lah sebuah Dosa, Perdamaian bisa diwujudkan...peace forever!!