Friday, November 13, 2009

OPEN SPACE

Di Codefin, kami memesan Coffee Latte dan Hot Capuccino, pilihan standar untuk malam yang biasa saja. Tapi lumayanlah, dua jenis minuman itu cukup untuk membuat kami tancap gas membicarakan berbagai soal. Kami membukanya dengan DVD Blue Ray yang sudah bisa dibajak, pembajakan dalam industri musik yang kian dekat dengan pusat industri itu sendiri, dekadensi selera musik, media yang biadab, hingga soal ganja Aceh yang istimewa.

Tepat di sebelah kami ada pembicaraan lintas bangsa yang melibatkan seorang -yang dari logatnya kami kira- Perancis dan tiga orang berlogat Melayu. Mereka berbicara dalam bahasa Inggris tapi dengan dialek masing-masing. Satu dialek Perancis yang sengau, lainnya dialek Malaysia atau Singapore yang berliku-liku.

Dua meja di sisi yang lain dari meja kami, berkumpul beberapa laki-laki dan perempuan muda yang metropolis. Pakaian bergenre urban, laptop yang terbuka di tengahnya, Blackberry yang tak pernah lepas dari genggaman, mereka bercakap. Cukup serius kami kira. Dugaan kami, mereka tengah membicarakan sebuah event, project, design, atau mungkin rancangan kontrak kerja. Kami hanya dapat menduga.

Tak lama berselang, ada satu pasangan yang turut bergabung dengan kelompok ini. Mereka turun dari pintu belakang sebuah mobil mewah, tanda bahwa mereka diantar seorang sopir. Perempuannya super cantik. Menggunakan rok teramat pendek yang kalau dia membungkuk untuk menjangkau sesuatu, memungkinkan kami untuk menerawang. Kami sepakat, gaya berpakaian perempuan muda sekarang lebih ekspresif dan secara berkelakar kami katakan mereka semakin aspiratif pada hasrat purba laki-laki. Pasangan ini menarik. Mereka bergabung dalam kelompok besar tapi juga terpisah. Laki-laki tak berhenti menunjukkan ekspresi -yang kami kira- ungkapan cinta atau sayang. Dia mengelus rambut perempuan ini, mencium bahunya, menempelken hidungnya, dan seterusnya.

Di ruang terbuka seperti Codefin, selalu ada banyak potret. Ada perbincangan lintas bangsa, ada energi kreatif yang tengah merencanakan sesuatu, ada cinta yang dirajut, ada yang tidak melakukan apa-apa, dan ada juga manusia seperti kami yang menjadi pengamat. Tapi garis besarnya jelas, tak ada beban untuk menyembunyikan ekspresi bahkan untuk ekspresi yang paling personal sekalipun. Dan kami yang mengamati, tak ada hak untuk menjadi merasa lebih istimewa.

Di sinilah pentingnya sebuah ruang terbuka. Ekspresi yang bersifat privat, kelompok, atau kumpulan dapat diketahui dan jika mau memungkin dikelola untuk menjadi "public sphere". Sebuah area dimana orang bisa berkumpul, mendiskusikan bersama secara bebas, menyusun sebuah rencana, dan melakukan sebuah aksi yang dapat memberi tekanan politik tertentu. Bisa dibayangkan jika meja-meja di Codefin yang memiliki wacana yang berdiri sendiri kemudian dikelola menjadi sebuah rencana aksi yang lebih politis. Pembicaraan kami soal dekadensi industri, kebiadaban media, atau kejumudan politik dapat menemukan bahan bakarnya dan tidak berhenti sebatas gunjingan atau keluhan belaka.

Dan Indonesia, Banda Aceh, Jakarta, Jogja, Surabaya, Makassar, Merauke dengan tradisi ruang terbuka yang sangat kuat seharusnya memilki potensi untuk menjadi bangsa yang lebih saling memahami dan tidak memaksakan kehendak.

No comments: